Kreatifa id – Sering kali kita menyaksikan beragam bentuk pertikaian, terutama di media sosial. Ruang digital yang seharusnya menjadi sarana penyambung silaturahmi dan berbagi informasi, kini justru kerap berubah menjadi medan pertempuran kata-kata. Dari kolom komentar hingga utas yang panjang, perselisihan seolah tidak pernah kehabisan bahan bakar untuk terus menyala setiap harinya.
Fenomena ini tidak terjadi begitu saja tanpa alasan yang mendalam. Jika ditelusuri lebih jauh, sebagian besar dari pertikaian tersebut sebenarnya berasal dari kecemasan terhadap hal-hal yang dianggap besar. Banyak orang merasa harus selalu ikut bersuara, merasa cemas jika tertinggal trend, atau takut dianggap tidak memiliki pengaruh dalam isu-isu yang sedang hangat dibicarakan.
Kecemasan yang menumpuk ini pada akhirnya menuntun masyarakat pada sebuah obsesi baru yang kurang sehat. Akibatnya, kita tergila-gila dengan kebesaran semu. Kita mulai mengukur harga diri dan eksistensi berdasarkan metrik digital yang fana, seperti jumlah pengikut, tanda suka, serta validasi instan dari orang-orang yang bahkan tidak kita kenal di dunia nyata.
Sialnya, pengejaran terhadap pengakuan instan ini justru menciptakan sebuah ilusi yang menjebak. Segala bentuk pencapaian, standar hidup, dan popularitas yang dikejar di ruang digital tersebut semakin hari semakin jauh dari realis. Kita terjebak dalam standardisasi hidup yang tidak realistis, yang dikonstruksikan oleh algoritma dan kepalsuan yang dikurasi sedemikian rupa.
Ketika kebesaran semu itu dijadikan sebagai tujuan utama, hubungan antarmanusia di dunia nyata perlahan mulai merenggang. Ego yang meninggi akibat validasi digital membuat seseorang menjadi lebih mudah tersinggung dan sulit menerima perbedaan pendapat. Inilah yang memicu lingkaran setan pertikaian yang tiada habisnya di jagat maya.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk sejenak mengambil jarak dan merenungkan kembali apa yang benar-benar bermakna dalam hidup. Kembali berpijak pada realitas yang nyata, menghargai hal-hal kecil yang autentik, dan melepaskan diri dari tuntutan kebesaran semu adalah langkah awal untuk menyembuhkan kecemasan serta menghentikan perselisihan yang sia-sia.

