Kreatifa id – Derasnya arus informasi yang semakin hari semakin tak terbendung telah mengubah lanskap kognitif manusia modern secara radikal. Setiap detik, kita dibombardir oleh jutaan data, berita, dan tren yang berseliweran di layar handphone tanpa henti. Pola konsumsi ini secara akademis sering memicu fenomena information overload atau kegemukan informasi, di mana kapasitas otak dipaksa untuk terus-menerus memproses stimulus visual dan tekstual yang datang bertubi-tubi.

Akibatnya, kita sering kali terjebak dalam ilusi bahwa mengetahui banyak hal yang sedang viral sama dengan memahami esensi dari hal tersebut. Kecepatan transmisi data digital ini sayangnya tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pemahaman individu yang mengonsumsinya.

Realitas sosiologis ini membawa kita pada sebuah situasi pelik yang sangat ironis di era modern, yaitu sebuah kondisi di mana kita menjadi kaya informasi tapi miskin pengetahuan. Secara filosofis, terdapat jurang eksistensial yang sangat lebar antara “mengetahui” (to know) dan “memahami” (to understand).

Informasi hanyalah serpihan data mentah yang berserakan di permukaan, sementara pengetahuan adalah hasil dari proses internalisasi, refleksi, dan pengendapan data tersebut ke dalam struktur kesadaran jiwa. Ketika kita hanya menumpuk informasi tanpa pernah mencernanya secara kritis, kita sebenarnya sedang membangun menara ilusi intelektual yang rapuh, di mana kita merasa tahu segalanya padahal tidak menguasai apa pun secara mendalam.

Kesenjangan kognitif ini mencerminkan hilangnya tradisi membaca yang kontemplatif dan bergeser menjadi sekadar pemindaian (scanning) informasi yang superfisial. Manusia modern cenderung menyukai narasi-narasi pendek yang instan, bombastis, dan cepat berganti, sehingga kehilangan kemampuan untuk fokus pada pemikiran yang kompleks dan mendalam.

Fenomena “miskin pengetahuan” ini mewujud dalam ketidakmampuan membedakan antara fakta objektif dan opini subjektif, serta maraknya penyebaran hoaks akibat hilangnya daya kritis. Secara akademis, jika situasi ini dibiarkan tanpa adanya literasi digital yang kuat, masyarakat akan kehilangan fondasi epistemologisnya dan mudah terombang-ambing oleh algoritma media sosial yang manipulatif.

Derasnya arus informasi yang semakin hari semakin tak terbendung, membawa kita pada situasi di mana kita : Kaya Informasi, Tapi Miskin Pengetahuan.

Jika kita meninjau fenomena ini dari sudut pandang nilai-nilai Islami, Islam sejak awal telah memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai pentingnya validasi dan keberkahan sebuah ilmu. Di dalam Al-Qur’an, konsep tabayun atau melakukan verifikasi dan meneliti kebenaran sebuah kabar merupakan perintah moral yang mutlak untuk menghindari prasangka dan fitnah.

Informasi yang melimpah ruah di jagat maya hari ini menuntut setiap muslim untuk memiliki filter keimanan dan logika yang kuat. Islam tidak menghendaki umatnya menjadi konsumen informasi yang naif, melainkan menjadi pribadi yang bijaksana yang mampu memilah mana berita yang membawa manfaat dan mana yang sekadar menjadi sampah visual yang mengotori hati.

Lebih jauh lagi, dalam tradisi intelektual Islam, ilmu bukan sekadar tumpukan wawasan teoretis atau hafalan teks yang tidak berdampak pada perilaku. Ilmu yang sejati (al-‘ilm) adalah cahaya (nur) yang masuk ke dalam hati, yang kemudian melahirkan rasa takut kepada Allah Swt. (khosyyah) dan mendorong pemiliknya untuk beramal saleh.

Oleh karena itu, kelimpahan informasi yang tidak mendekatkan seseorang kepada Sang Pencipta atau tidak memperbaiki akhlaknya, dipandang sebagai ilmu yang tidak bermanfaat. Seorang muslim yang kaya informasi tetapi miskin pengetahuan spiritual pada hakikatnya sedang mengalami kerugian besar, karena ia mengorbankan waktu dan perhatiannya demi hal-hal yang bersifat fana dan tidak menyelamatkan.

Secara filosofis dan psikologis, konsumsi informasi yang berlebihan tanpa adanya penyaringan juga dapat merusak ketenangan batin (thuma’ninah). Jiwa manusia yang terus-menerus disuguhi drama, konflik, dan pamer kemewahan di media sosial akan mudah dihinggapi penyakit hati seperti hasad (iri dengki), riya, dan kegelisahan yang tak berujung.

Di sinilah pentingnya melakukan tata kelola pikiran dan hati melalui zikir serta membatasi diri dari kebisingan dunia maya. Menjaga fokus pada ilmu yang esensial dan praktis bagi kehidupan beragama serta duniawi jauh lebih mulia daripada mengetahui segala hal remeh-temeh yang tidak membawa dampak nyata bagi kualitas spiritual kita.

Dalam perspektif akademis pendidikan Islam, proses transformasi informasi menjadi pengetahuan yang berkah membutuhkan kehadiran guru, adab, dan metodologi yang benar. Proses belajar tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh mesin pencari atau kecerdasan buatan, karena di dalam pembelajaran sejati terdapat transfer nilai (transfer of values) dan keberkahan doa.

Ketika seseorang belajar dengan mengedepankan adab dan kerendahan hati, informasi yang diterimanya akan mengkristal menjadi hikmah—sebuah kebijaksanaan tertinggi yang mampu menuntunnya mengambil keputusan dengan tepat di tengah situasi dunia yang kacau dan penuh ketidakpastian.



Sebagai kesimpulan, perpaduan antara kecerdasan kognitif, kebijaksanaan filosofis, dan komitmen spiritual adalah kunci utama untuk selamat dari badai informasi di era digital ini. Kita harus berani mengambil jarak sejenak dari layar handphone untuk merenung, membaca dengan mendalam, dan mengamalkan setiap jengkal pengetahuan yang telah kita raih.

Mari kita ubah banjir informasi yang kita terima setiap hari menjadi sumber energi kebaikan yang terstruktur melalui filter iman dan ilmu yang sahih. Dengan demikian, kita tidak akan lagi menjadi generasi yang miskin di tengah kelimpahan, melainkan menjadi pribadi yang kaya akan kebijaksanaan, matang secara intelektual, dan teduh secara spiritual demi meraih rida-Nya.

Semoga sampai.