Kreatifa id – Manusia sering kali terjebak dalam ilusi bahwa hari esok selalu tersedia. Kita menjalani hari demi hari dengan kesadaran penuh akan konsekuensi dari setiap perbuatan—kita tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Namun, ironisnya, pengetahuan tersebut sering kali berhenti menjadi teori di kepala tanpa pernah benar-benar menjadi guru bagi tindakan kita. Ada jarak yang lebar antara “tahu” dan “belajar”, di mana tahu hanyalah sebatas informasi, sementara belajar melibatkan perubahan sikap dan kesadaran batin untuk melangkah pulang ke jalan yang benar.
Kelemahan terbesar kita adalah sering kali meremehkan momentum saat ini. Kita menunda amal kebaikan, menunda perbaikan diri, bahkan menunda waktu untuk bersujud dengan asumsi bahwa umur masih berpihak pada kita. Kita lupa bahwa waktu adalah makhluk Allah yang bergerak linier, maju ke depan tanpa kompromi. Ia tidak mengenal kata tunggu, tidak peduli seberapa lelahnya kita, seberapa tidak siapnya kita, atau seberapa besarnya tumpukan penyesalan yang mulai menggunung di dalam dada.
Penyesalan adalah salah satu perasaan paling menyiksa yang bisa dialami oleh jiwa manusia. Ia datang seperti hantaman ombak yang menyadarkan kita akan peluang-peluang ibadah yang hilang, kata-kata baik yang tak sempat terucap, atau kekhilafan yang telanjur dilakukan. Namun, dalam hukum penciptaan-Nya, Allah telah menetapkan sifat waktu yang mutlak: sekuat apa pun kita menangis, sekeras apa pun kita memohon di dalam ruang penyesalan itu, jarum jam kehidupan tidak akan pernah berputar ke kiri. Detik yang lalu telah menjadi sejarah yang terkunci rapat.
Secara Islami, kesadaran akan sifat waktu yang tidak bisa kembali ini seharusnya memicu kerinduan yang menyala-nyala untuk segera pulang ke jalan Allah. Islam memandang penyesalan sebagai awal dari kesadaran batin, sebuah panggilan halus agar jiwa yang tersesat segera berbalik arah. Namun, penyesalan itu tidak boleh mandek menjadi ratapan yang melumpuhkan. Ia harus segera diubah menjadi energi untuk melangkah kembali seketika itu juga, sebelum jatah waktu di dunia ini benar-benar habis dan kesempatan untuk mengetuk pintu rida-Nya ditutup rapat oleh ketetapan ajal.
Setiap dentingan jam adalah peringatan halus dari Allah bahwa usia kita sedang dikurangi, bukan ditambah. Seorang mukmin yang bijak tidak akan membiarkan dirinya terjebak dalam romantisasi penyesalan masa lalu hingga melupakan kewajiban hari ini. Jika masa lalu dipenuhi dengan kelalaian, maka satu-satunya cara untuk menebusnya bukan dengan memutar kembali waktu—karena itu mustahil—melainkan dengan membawa sisa detik yang ada saat ini untuk kembali bersimpuh, mengharap ampunan dan bimbingan-Nya yang tiada bertepi.

Pada akhirnya, hidup ini adalah ujian tentang bagaimana kita menghargai setiap helaan napas yang dipinjamkan oleh-Nya. Mengetahui kebenaran saja tidak akan pernah cukup jika kita tidak pernah mau belajar dari kesalahan masa lalu untuk memperbaiki arah perjalanan. Selagi jarum jam kehidupan masih berputar ke kanan dan raga masih bernyawa, mulailah melangkah. Ubah tahu menjadi tindakan, dan jadikan penyesalan hari kemarin sebagai titik balik untuk kembali menata hati demi menjemput rida Allah di sisa waktu yang tersisa.
