Kreatifa id – Panggung sejarah manusia sering kali dipenuhi oleh cerita tentang individu yang bangga akan pencapaian besarnya. Ketika urusan duniawi dilancarkan, karier menanjak tajam, atau badai ujian berhasil dilewati, ego di dalam diri secara refleks membisikkan bahwa semua itu adalah hasil dari kecerdasan dan ketangguhan pribadi.
Manusia merasa menjadi aktor utama yang paling berandil atas kokohnya diri mereka berdiri tegak, sampai-sampai lupa bahwa di dalam Islam, kesombongan sekecil biji sawi pun dapat menghalangi seseorang untuk masuk ke dalam surga.
Di balik layar bisingnya tepuk tangan dunia, sebenarnya ada sebuah realitas senyap yang kerap luput dari pandangan mata. Keberanian seseorang untuk melangkah serta ketenangan batin saat menghadapi situasi pelik tidak pernah murni berasal dari kapasitas personal yang terbatas.
Ada satu pengakuan jujur yang harus berani disuarakan demi meruntuhkan kesombongan intelektual ini: bahwa bukan diri kita yang hebat atau kuat, melainkan ada untaian doa dari ibu dan bapak yang teramat dahsyat sedang mengetuk pintu-pintu langit, menjadi wasilah turunnya pertolongan Allah SWT.
Mari kita renungkan sejenak apa yang terjadi saat seorang anak sedang tertidur lelap karena kelelahan mengejar ambisi materi. Di sepertiga malam yang sunyi, saat Allah turun ke langit dunia menjanjikan pengabulan doa, ada kedua orang tua yang terjaga dalam sujudnya, menyebut nama buah hatinya dengan penuh ketulusan.
Air mata ibunda yang menetes bersanding dengan peluh serta rintihan asma bapak di atas sajadah adalah energi tak kasat mata yang mengetuk Arsy, meminta perlindungan untuk anaknya. Dalam maqam spiritual Islam, ridha Allah terletak pada rida orang tua, dan doa mereka adalah salah satu doa paling makbul yang tidak memiliki hijab atau pembatas langsung dengan Sang Pencipta.
Setiap kesuksesan yang kita rayakan hari ini adalah wujud nyata dari proposal langit yang diajukan oleh ibu dan bapak, jauh sebelum kita sendiri memahami arti sebuah perjuangan.
Ketangguhan mental yang dibanggakan manusia saat ini sejatinya dibentuk oleh aliran restu orang tua yang mengalir deras dalam darah. Sungguh naif jika seorang anak merasa sukses murni karena faktor akademis, modal yang melimpah, atau koneksi profesional yang dibangunnya sendiri.
Setiap kali kemudahan yang tidak terduga hadir di tengah masa sulit, itu adalah bentuk keberkahan hidup (barakah) yang Allah turunkan karena mulianya kedudukan ibu yang telah bertaruh nyawa melahirkan, serta bapak yang telah memeras keringat demi menafkahi tanpa pernah mengeluh.
Menghilangkan kebiasaan mengabaikan peran spiritual orang tua adalah benteng agar manusia tidak menjadi hamba yang kufur nikmat. Ketika kita menempatkan doa ibu dan bapak sebagai variabel utama di balik ketahanan diri, kita sedang mempraktikkan konsep tawakal dan tawadu yang diajarkan dalam Islam.
Kesadaran ini membebaskan jiwa dari beban ekspektasi duniawi yang melelahkan, karena kita paham bahwa sehebat apa pun strategi manusia, ketetapan terbaik tetap berada di tangan-Nya melalui rida kedua orang tua yang dimuliakan.

Pemahaman yang mendalam akan kehebatan doa ini lambat laun bakal mengubah cara seorang anak memperlakukan orang tuanya dan memaknai arti sebuah pencapaian. Keberhasilan tidak lagi dilihat sebagai panggung kesombongan pribadi, melainkan sebagai amanah besar dan ladang pahala untuk berbakti (birrul walidain).
Selama hembusan napas dan doa tulus dari ibu serta bapak masih mengalir, maka tidak ada badai di dunia ini yang perlu ditakuti secara berlebihan, sebab menempatkan mereka di posisi tertinggi adalah kunci utama yang membuka pintu-pintu rezeki dan keberkahan yang tidak pernah putus dari dunia hingga akhirat.
Semoga sampai.
