Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’
– QS. Al-Baqarah (127)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ketika Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. membangun fondasi Ka’bah, mereka berdua bekerja sambil terus mengulang-ulang doa ini secara lisan. Ibnu Katsir juga mengutip sebuah kisah dari Wuhaib bin Al-Ward, seorang ulama tabi’in, yang ketika membaca ayat ini menangis lalu berkata, “Wahai Kekasih Allah (Ibrahim), engkau meninggikan bangunan Baitullah (Rumah Allah), sementara engkau berada dalam kondisi takut kalau amalmu tidak diterima oleh-Nya.” Penafsiran ini menunjukkan betapa besarnya rasa harap sekaligus cemas (khauf wa raja’) yang dimiliki oleh seorang nabi yang mulia setelah melakukan ketaatan yang besar.

Bayangkan saja, mereka adalah utusan pilihan Allah yang sedang menjalankan perintah yang sangat suci, mulia, dan bersejarah. Namun, menariknya, setelah proyek besar itu selesai dengan sempurna, mereka tidak lantas merasa hebat, pamer, atau merasa sudah pasti mendapatkan pahala yang besar. Sebaliknya, mereka justru melunakkan hati, menundukkan kepala, dan dengan penuh rasa harap memohon agar amalan tersebut berkenan diterima oleh Allah SWT, Zat Yang Maha Mendengar setiap rintihan doa dan Maha Mengetahui ketulusan hati hamba-Nya.
Dari kisah di balik ayat dan penafsiran tersebut, kita bisa mengambil pelajaran berharga tentang apa itu arti ketulusan dan kerendahan hati yang sesungguhnya. Sering kali dalam kehidupan sehari-hari, setelah kita berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik, membuat sebuah karya yang indah, atau setelah kita bersedekah dan membantu orang lain, muncul perasaan puas yang berlebihan dalam diri kita. Tanpa sadar, terkadang terselip rasa bangga diri (ujub) yang bisa merusak pahala dari amalan tersebut.
Ayat ini hadir sebagai pengingat yang lembut namun mendalam bagi kita semua dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Ayat ini mengajarkan bahwa sehebat apa pun usaha, tenaga, waktu, dan pikiran yang sudah kita korbankan untuk sebuah kebaikan, penentu akhirnya tetaplah rida dan penerimaan dari Allah. Doa ini melatih kita untuk selalu menjaga niat di dalam hati, agar apa yang kita kerjakan bukan demi mendapatkan tepuk tangan atau pujian dari manusia, melainkan murni karena mengharap kasih sayang Allah semata.
Secara filosofis, pesan mendalam dari ayat ini mengajarkan kita sebuah seni dalam beribadah dan bekerja, yaitu menutup setiap usaha maksimal dengan kepasrahan yang total kepada-Nya. Kita diajak untuk tidak hanya fokus pada hasil akhir yang terlihat oleh mata manusia, tetapi juga pada kebersihan proses dan keikhlasan hati yang hanya diketahui oleh Allah. Kita diajak untuk sadar bahwa sebagai manusia biasa, amalan kita pasti tidak luput dari kekurangan, sehingga kita selalu butuh ampunan dan kemurahan hati-Nya untuk menyempurnakan amal tersebut.
Melalui perenungan terhadap pesan yang tenang ini, kita diingatkan kembali untuk selalu mengosongkan hati dari sifat sombong. Setiap kali kita menyelesaikan suatu kebaikan—baik itu setelah ibadah, bekerja mencari nafkah, belajar, maupun saat menciptakan karya kreatif yang bermanfaat bagi sesama—ucapkanlah doa ini. Semoga setiap tetes keringat, rasa lelah, dan waktu yang kita luangkan benar-benar bernilai ibadah yang berkah dan diterima di sisi-Nya.
Semoga sampai.
