Kreatifa id – Kehidupan sering kali membawa kita pada tikungan-tikungan tajam yang tak terduga. Ada kalanya, beban yang dipikul terasa begitu berat hingga pundak tak lagi mampu menegak. Saat menghadapi kesulitan yang kadang kita tak sanggup menyelesaikannya sendiri, dunia seolah menyempit dan menyisakan ruang yang sunyi bagi diri kita untuk merenung.
Di tengah keheningan dan keputusasaan itu, sebuah kesadaran mendalam seharusnya dimiliki sebagai manusia bahwa kita tidak pernah benar-benar diciptakan untuk berjalan sendirian. Ketika logika mulai menemui jalan buntu dan kekuatan fisik tak lagi tersisa, ada sebuah nasihat yang menenteramkan dari abah: sambatlah pada ibumu. Kami berprinsip bahwa mengadu dan meluapkan keluh kesah bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah pengakuan jujur bahwa kita adalah makhluk yang penuh keterbatasan.

Namun, dalam hierarki spiritual dan emosional, ada pihak-pihak tertentu yang memang sangat berhak untuk kita ‘sambati’ atau tempat kita menumpahkan segala keluh kesah. Sandaran pertama dan yang paling utama adalah ALLAH, Dzat yang Maha Kuasa atas segala urusan. Mengadukan segalanya kepada Sang Pencipta melalui untaian doa adalah langkah awal untuk meruntuhkan keangkuhan diri dan menjemput kedamaian bimbingan-Nya.
Setelah mengadu kepada Sang Khalik, tempat bersandar kedua yang patut kita tuju adalah NABI, sebagai teladan agung yang membawa syafaat dan keteladanan dalam menghadapi badai kehidupan.
Kemudian, pada urutan ketiga yang tak kalah sakral, hadir sosok IBU (orang tua) yang rahimnya menjadi tempat pertama kita mengenal dunia. Kepada merekalah kita datang, bukan sekadar untuk menangis, melainkan dengan cara memohon doa dan restu tulus yang mampu menembus langit.
Restu dan doa dari seorang ibu memiliki kekuatan magis yang tak kasat mata. Ketika ridha Allah bersanding dengan ridha orang tua, keyakinan baru akan tumbuh di dalam dada. Yakinlah, dengan berserah diri dan memohon restu dari jalur-jalur suci tersebut, kita tidak akan merasa takut dan bersedih hati lagi dalam menjalani sisa perjuangan yang ada di depan mata.
Pada akhirnya, ketenangan sejati akan merasuk ke dalam jiwa, menggantikan rasa sesak yang sempat mampir. Sebuah janji suci yang menenteramkan pun bergema di dalam hati, membebaskan manusia dari belenggu kecemasan yang berlebihan: laa khoufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun—tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Di balik punggung yang lelah, selalu ada ruang untuk kembali dan bangkit dengan kekuatan doa.
Semoga sampai.
